Menghitung Hari Presiden Baru Naikkan Harga BBM Subsidi

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan, pemerintahan inkumben mendukung upaya pengurangan subsidi BBM dengan penyesuaian harga oleh Presiden terpilih. Menurut Bambang, pemerintahan baru akan memiliki ruang fiskal yang besar dalam APBN 2015 bila melakukan kebijakan substansial belanja yang sifatnya mengikat.

“Ruang fiskal bisa diadakan jika ada perubahan kebijakan substansial belanja yang mengikat, salah satunya subsidi. Tanpa itu terbatas,” kata Bambang di Gedung DPR/MPR, Jumat (15/8/2014).

Lebih lanjut, Bambang mengungkapkan, saat ini pemerintah belum akan mengubah kebijakan kenaikan harga BBM subsidi guna menekan beban anggaran. Akan tetapi, pemerintah telah menyampaikan usulan terkait hal tersebut kepada Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.

“Sementara belum ada perubahan. Itu (kenaikan harga) usulan dari (Ditjen) Anggaran, dan kalau mau dibahas di DPR, silakan. Mudah-mudahan ada ruang fiskal yang bisa ditambah setelah diskusi dengan DPR,” ungkap Bambang.

Kata Bambang, bila ada penyesuaian harga BBM subsidi, waktu yang lebih tepat dilakukan adalah saat pemerintahan baru telah menjabat. Akan tetapi, pemerintah tak bisa menghapus subsidi secara penuh, karena telah diatur dalam Undang-undang (UU).

“Pemerintahan baru dong (kenaikan). Karena jika dilakukan kenaikan harga sekarang, kita sudah memperhitungkannya. Mau dinaikkan pun, nggak ada perubahan ke budget (APBN). Tapi ini kan masalahnya keputusan politik bukan hanya masalah angka,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, waktu yang tepat untuk melakukan penyesuaian harga BBM subsidi dapat dilakukan ketika laju inflasi terbilang rendah. “Tahun depan, saat inflasi rendah, yakni di bulan Maret dan April. Kalau tahun ini kan harusnya seasonal, inflasi rendah hanya September dan Oktober,” kata dia.

“Tebing Karaton” Tempat Indah Yang Sedang Hits di Bandung

Bandung tidak pernah kehilangan sensasi untuk menarik wisatawan datang ke kota ini. Selain menikmati nikmatnya kuliner di Bandung, banyaknya factory outlet untuk berbelanja, dan segarnya udara kota Bandung, Bandung juga memiliki alam yang indah untuk dinikmati. Setelah beberapa tahun kebelakang sensasi pemandangan indah dari Bukit Moko menarik banyak wisatawan, kini ada tempat indah lainnya yang sedang hangat diperbincangkan.
Tempat yang serupa dengan Bukit Moko ini bernama Tebing Karaton. Berbeda dengan Moko yang menyajikan pemandangan citylight Bandung, Tebing Karaton ini menyajikan pemandangan hamparan hutan THR Ir. Juanda yang terlihat dari ketinggian. Tebing Karaton ini terletak di Kampung Ciharegem Puncak RT 03/10, Desa Wisata Ciburial, sekitar 5 KM dari pintu masuk THR Ir. Juanda.

Banyak yang menyebutkan nama tebing ini dengan bahasa Indonesia, yaitu Tebing Keraton, padahal nama sebenarnya disebutkan dengan basa Sunda yaitu Tebing Karaton. Menurut warga sekitar arti dari nama Tebing Karaton ini adalah kemegahan dan keindahan seperti “karaton”(istana-Red).

Akses untuk menuju ke Tebing Karaton terbilang mudah, hanya saja jalannya yang kurang baik memakan waktu perjalanan kesana. Jika Wargi Bandung ingin ke Tebing Karaton, Wargi Bandung bisa menuju ke Dago Pakar, setelah sampai di depan pintu masuk THR Ir. Juanda Wargi Bandung masih harus lurus sampai menemukan pertigaan lalu belok kanan. Setelah itu Wargi Bandung ikuti jalan untuk sampai ke Warung Bandrek lalu belok kiri. Setelah ini Wargi Bandung tinggal mengikuti jalan sampai ke Tebing Karaton.
Waktu yang paling bagus untuk menikmati Tebing Karaton adalah pagi hari saat matahari terbit & sore hari saat matahari terbenam. coba dan rasakan sejuk dan keindahan viewnya visit bandung!enjoy

Cerita Robby Djohan, Bangkitkan Garuda Hanya 6 Bulan

Jakarta -Robby Djohan pernah menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (Garuda). Ia menjabat Dirut hanya 6 bulan yakni dari bulan Juni-November 1998.

Saat menerima penugasan sebagai Dirut Garuda, Robby dihadapkan pada kondisi perusahaan yang serba sulit. Garuda waktu itu memiliki reputasi sangat buruk. Selain penerbangan sering terlambat, pesawat Garuda juga diisi oleh armada-armada tua.

“Kita punya image jelek, pesawat tua, datangnya sering telat,” kata Robby di Gedung Sovereign Plaza, Jakarta Selatan, Kamis (14/8/2014).

Selain itu, rute-rute Garuda banyak yang merugi. Perseroan juga memiliki utang hingga US$ 1,2 miliar dan arus kas minus US$ 158 juta. Sehingga ia harus bekerja keras untuk mengangkat Garuda dari keterpurukan.

Robby melakukan berbagai cara untuk mengubah wajah korporasi, salah satunya adalah menguatkan posisi manajer distrik. Para manajer distrik diminta menggenjot penjualan.

Selain itu, ia menutup rute-rute domestik dan internasional yang merugi dan meningkatkan ketepatan waktu penerbangan. Namun langkah Robby tidak berhenti di situ, ia juga mengoptimalkan pesawat-pesawat Garuda untuk terbang kembali.

“Saya ubah image, tutup rute, dan ganti orang,” jelasnya.

Robby dikenal saat memimpin Garuda dengan tangan dinginnya. Ia tidak segan untuk memberhentikan atau mempensiunkan pegawai yang tidak produktif. Pria yang memiliki latar belakang bankir ini, dipilih pada era Menteri BUMN pertama yakni Tanri Abeng.

Bahkan Robby mengaku gajinya turun drastis saat menjadi Dirut Garuda. Gaji Robby sebagai seorang bankir di Bank Niaga mencapai US$ 1,8 juta per bulan sedangkan ia hanya menerima gaji Rp 16 juta per bulan saat menjadi Dirut Garuda. Saat itu kurs dolar berkisar di angka Rp 8.000.

“Gaji saya US$ 1,8 juta saat di Niaga. Waktu di Garuda hanya Rp 16 juta. Saya nggak pernah ambil gaji,” jelasnya

Setelah 6 bulan bertugas di Garuda, Robby sudah memperoleh tugas baru. Meski hanya bertugas selama 6 bulan, capaian nyata sudah terlihat di Garuda.

“Utang US$ 1,2 miliar waktu masuk. Saya keluar tinggal US$ 900 juta,” jelasnya.

Robby keluar Garuda karena diminta oleh Tanri untuk menjadi Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk. Robby memimpin program restrukturisasi Bank Mandiri saat krisis. Ia merekrut ahli-ahli perbankan untuk bergabung, salah satunya adalah Agus Martowardojo.

“Saya merekrut orang-orang terbaik. Salah satunya Agus Marto,” katanya.

Rencana Wali Kota Bandung Atasi Kemacetan di Pasteur

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Mashudi menyampaikan usulan kepada Wali Kota Bandung Ridwan Kamil untuk membuat inovasi agar Jalan Djunjunan (Pasteur) tidak macet, terutama pada saat akhir pekan.

Selain meminta untuk memundurkan gerbang Tol Pasteur agar tidak terlalu dekat dengan lampu merah, Mashudi juga mendorong agar Ridwan Kamil bisa segera membangun jalan layang yang menghubungkan langsung gerbang Tol Pasteur dengan jembatan layang Pasupati.

Menanggapi usulan tersebut, Ridwan menyatakan akan “mengebut” realisasi pembangunan jalan layang yang menghubungkan Tol Pasteur. Tidak hanya sampai Gasibu, jalan layang tersebut rencananya akan tersambung hingga ke Cicaheum.

“Jalan layang itu sedang kita kebut. Yang jadi masalah itu di pembebasan 14 aset tanah kementerian. Surat izin membebaskannya lama sekali,” ungkap pria yang akrab disapa Emil ini di Balaikota Bandung, Rabu (13/8/2014).

Lebih lanjut Emil menjelaskan, untuk pembebasan lahan milik pribadi, tidak ada masalah. Jika pembebasan lahan 14 kementerian sudah terlaksana, kata dia, pembangunan jalan layang yang menghubungkan gerbang Tol Pasteur dengan Cicaheum bisa secepatnya dilaksanakan.

“Targetnya dikebut dalam semester ini,” tandasnya.

Ditanya soal anggaran untuk pembangunan jalan layang tersebut, Emil mengaku tidak mengetahuinya secara rinci. “Yang pasti triliunan,” tuturnya.